• 0821 1211 5756
  • office@badanwakafassyifa.org
  • Subang, Jawa Barat, Indonesia
Badan Wakaf Assyifa
Dari 2 Rakaat Jadi Rumah di Surga: Sederhana Tapi Sering Ditunda

Dari 2 Rakaat Jadi Rumah di Surga: Sederhana Tapi Sering Ditunda

Dari 2 Rakaat Jadi Rumah di Surga: Sederhana Tapi Sering Ditunda

Kita ini aneh, ya. Soal tempat di dunia yang sementara ini, bisa serius banget. Hotel penuh? Panik. Parkiran penuh? Muter sampai dapat yang paling pas. Tiket perjalanan habis? Langsung cari alternatif. Intinya satu, yaitu kita tidak mau kehabisan tempat. Tapi giliran tempat tinggal di akhirat, yang jelas-jelas bukan sementara, justru sering kali kita santai.

Kita bisa melakukan berbagai macam usaha untuk tempat yang kita tinggali hanya beberapa jam atau beberapa hari. Namun, kita jarang benar-benar mempersiapkan tempat yang akan menjadi rumah selamanya. Kadang-kadang kita harus jujur, bukan karena tidak tahu, tetapi karena belum merasa itu penting. Kalau kamu sedang membaca tulisan ini, mungkin kamu berada di fase yang sama, yaitu memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik, tetapi masih ada jarak antara memahami dan benar-benar melakukannya.

Artikel ini untuk kamu yang merasa shalat sunnah sering terlewat karena menganggapnya hanya sebagai bonus. Untuk kamu yang sering mendengar keutamaannya, tetapi belum berhasil menjadikannya kebiasaan. Untuk kamu yang ingin meningkatkan kualitas ibadah, tetapi bingung harus mulai dari mana. Atau mungkin selama ini kamu hanya tahu bahwa shalat sunnah itu baik, tanpa benar-benar memahami mengapa ia begitu penting. Kalau ada satu saja yang terasa relate, mungkin ini bukan kebetulan. Bisa jadi yang sedang kamu cari bukan sekadar tambahan pahala, tetapi cara sederhana untuk menyiapkan bekal akhirat tanpa harus menjadi sempurna terlebih dahulu.

Jujur saja, banyak orang meninggalkan shalat sunnah bukan karena tidak menyukainya. Mereka hanya berpikir bahwa shalat sunnah tidak sepenting itu. “Kan cuma sunnah.” Kalimat sederhana itu terdengar biasa saja, tetapi tanpa sadar membuat kita semakin jauh. Hari ini yang perlu diluruskan bukan hanya kebiasaan kita, tetapi juga cara pandang kita.

Karena masalahnya sering kali bukan pada rasa malas. Masalahnya ada pada cara kita memahami ibadah sunnah itu sendiri.

Kita tumbuh dengan pemahaman bahwa sunnah berarti jika dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan tidak berdosa. Secara teori memang benar. Namun, jika pemahaman kita berhenti sampai di sana, kita akan kehilangan makna besar yang ada di baliknya.

Coba lihat dari sudut pandang yang berbeda. Di akhirat nanti, ketika semua amal diperhitungkan dengan sangat teliti, yang pertama kali diperiksa bukan prestasi hidup kita, bukan pencapaian karier, bukan juga pengakuan manusia. Yang pertama kali diperiksa adalah shalat wajib yang kita lakukan setiap hari.

Dan kalau kita jujur, tidak semua dari kita bisa mengatakan bahwa shalat kita sudah benar-benar sempurna.

Ada kalanya kita shalat dalam keadaan terburu-buru. Ada kalanya pikiran melayang ke mana-mana. Ada kalanya gerakan selesai, tetapi hati tidak benar-benar hadir. Jika ada kekurangan dalam shalat wajib kita, lalu bagaimana cara menutupinya?

Di sinilah peran shalat sunnah yang sering dianggap remeh itu muncul.

Shalat sunnah bukan sekadar tambahan. Bukan sekadar pelengkap agar terlihat lebih baik. Ia adalah penopang. Ia adalah penambal. Ia adalah penyempurna.

Ibarat sebuah bangunan, shalat wajib adalah fondasi utamanya. Namun ketika ada bagian yang retak atau kurang sempurna, shalat sunnah membantu memperkuat dan melengkapinya. Ironisnya, justru yang sering kita anggap kecil itulah yang bisa menjadi penyelamat.

Jadi persoalannya bukan lagi wajib atau sunnah. Persoalannya adalah apakah bekal yang kita miliki nanti cukup atau tidak. Karena sering kali sesuatu yang terlihat kecil hari ini justru menjadi sesuatu yang sangat besar nilainya di akhirat nanti.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَلَّى فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً سِوَى الْمَكْتُوبَةِ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang melakukan shalat dalam semalam dan sehari sebanyak dua belas rakaat selain shalat wajib, akan dibangunkan untuknya rumah di surga.” (HR. Muslim)

Perhatikan hadits ini baik-baik.

Bukan sekadar pahala. Bukan sekadar tambahan nilai amal. Tetapi rumah di surga.

Rumah adalah tempat tinggal. Tempat kembali. Tempat beristirahat. Tempat yang menghadirkan rasa aman dan nyaman. Dan Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa ada jalan yang sangat sederhana menuju hadiah sebesar itu.

Dua belas rakaat.

Kalau dipikir-pikir, jumlah itu sebenarnya tidak berat. Dua rakaat sebelum Subuh, empat rakaat sebelum Zuhur atau minimal dua rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelah Zuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dan dua rakaat setelah Isya.

Totalnya hanya beberapa menit yang tersebar sepanjang hari.

Namun sering kali justru yang ringan itulah yang paling sering ditunda.

Menariknya lagi, ada riwayat lain yang menyebutkan sepuluh rakaat rawatib yang sangat dijaga oleh Rasulullah ﷺ.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

“Aku menjaga dari Nabi ﷺ shalat sunnah sepuluh rakaat, yaitu dua rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Maghrib di rumah beliau, dua rakaat sesudah Isya di rumah beliau, dan dua rakaat sebelum Subuh.” (HR. Bukhari)

Hadits ini mengajarkan satu hal penting. Fokusnya bukan hanya pada angka, tetapi pada konsistensi.

Mulailah dari yang paling ringan. Kalau belum mampu menjaga dua belas rakaat, mulailah dengan dua rakaat sebelum Subuh. Jika sudah terbiasa, tambahkan yang lain secara bertahap.

Karena dalam perjalanan menuju Allah, yang paling penting bukan siapa yang paling cepat. Yang paling penting adalah siapa yang terus berjalan.

Selain sebagai penyempurna shalat wajib, shalat sunnah juga memiliki fungsi lain yang sering tidak kita sadari, yaitu sebagai jembatan rasa.

Sering kali kita datang ke shalat wajib dengan pikiran yang masih penuh urusan dunia. Baru saja memikirkan pekerjaan, tugas, bisnis, keluarga, atau masalah lainnya. Akibatnya, ketika takbir dimulai, hati belum benar-benar siap menghadap Allah.

Shalat sunnah menjadi masa transisi. Ia membantu hati berpindah dari kesibukan dunia menuju ketenangan ibadah. Ia melatih kita untuk hadir sebelum benar-benar berdiri dalam shalat wajib.

Karena itu, manfaatnya bukan hanya menambah jumlah amalan, tetapi juga meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Allah.

Bahkan dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman:

“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.”

Perhatikan kalimat itu.

Bukan hanya diberi pahala. Bukan hanya dicatat amalnya. Tetapi dicintai oleh Allah.

Dan ketika seseorang telah mendapatkan cinta Allah, hidupnya akan terasa berbeda. Bukan berarti masalah hilang. Bukan berarti semua urusan menjadi mudah. Namun ada ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.

Ada kekuatan saat menghadapi kesulitan. Ada keteguhan saat menghadapi ujian. Ada rasa cukup meskipun keadaan belum sempurna.

Karena itu, shalat sunnah sebenarnya bukan sekadar pelengkap ibadah. Ia adalah cara menjaga hati agar tetap dekat dengan Allah.

Mungkin yang kita butuhkan bukan waktu yang lebih banyak. Mungkin yang kita butuhkan hanyalah keputusan untuk mulai.

Mulai dengan dua rakaat.

Mulai dengan langkah kecil.

Mulai hari ini.

Namun ada satu hal yang juga perlu kita pikirkan. Kita sering sibuk memperbaiki diri untuk hari ini, tetapi lupa menyiapkan kebaikan yang akan terus hidup setelah kita tiada. Padahal umur manusia terbatas, sementara kesempatan mendapatkan pahala tidak harus berhenti ketika kehidupan berakhir.

Di sinilah wakaf menjadi salah satu bentuk ikhtiar terbaik. Jika dua rakaat sunnah adalah cara kita menjaga hubungan dengan Allah selama hidup, maka wakaf adalah cara agar kebaikan tetap berjalan bahkan ketika kita sudah tidak lagi berada di dunia.

Setiap manfaat yang lahir dari wakaf akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Selama masih ada orang yang merasakan manfaatnya, selama itu pula pahala akan terus dituliskan untuk pewakafnya.

Bayangkan jika sebagian rezeki yang kita miliki hari ini digunakan untuk mendukung pendidikan, dakwah, sarana ibadah, layanan kesehatan, atau berbagai program sosial yang bermanfaat bagi umat. Mungkin nilainya tidak besar menurut pandangan manusia, tetapi di sisi Allah bisa menjadi sebab hadirnya kebaikan yang terus berkembang dari generasi ke generasi.

Karena itu, jangan menunggu waktu yang dianggap paling ideal. Jangan menunggu kaya. Jangan menunggu lapang. Jangan menunggu merasa sudah menjadi hamba yang sempurna. Sebagaimana kita memulai kebiasaan shalat sunnah dari dua rakaat yang sederhana, kita pun bisa memulai wakaf dari kemampuan yang kita miliki hari ini.

Siapa tahu dua rakaat yang kita jaga setiap hari menjadi sebab dibangunkannya rumah untuk kita di surga. Dan siapa tahu wakaf yang kita titipkan hari ini menjadi aliran pahala yang terus mengalir hingga hari ketika kita sangat membutuhkannya.

Mari mulai melangkah dari sekarang. Jaga dua rakaat sunnah yang sering kita tunda, lalu lengkapi dengan amal jariyah yang terus hidup melalui wakaf. Tidak perlu menunggu banyak, tidak perlu menunggu nanti. Karena setiap kebaikan yang dimulai hari ini bisa menjadi bekal yang sangat berharga di akhirat kelak.

Yuk, ambil bagian dalam wakaf sesuai kemampuan yang kita miliki. Jadikan sebagian rezeki yang Allah titipkan sebagai investasi akhirat yang manfaatnya terus dirasakan oleh banyak orang. Sebab bisa jadi, dari wakaf yang kita tunaikan hari ini, lahir doa-doa kebaikan, manfaat yang berkelanjutan, dan pahala yang terus mengalir hingga hari kita dipanggil kembali kepada-Nya.

Ambil Peran untuk wakaf hari ini : https://gojariah.org/program/wakaf-produktif-investasi-mengalir-tiada-akhir?utm_ref=1077&utm_source=web

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − 6 =