
Menanam Kebaikan untuk Hari yang Pasti Datang
Menanam kebaikan adalah prinsip pokok dalam ajaran Islam yang diteladankan oleh para nabi dan para sahabat, salah satunya Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, sahabat terdekat Rasulullah ﷺ. Sejak awal keislamannya, Abu Bakar mengabdikan harta, tenaga, dan waktunya untuk membantu umat serta mendukung dakwah Islam. Ia meyakini bahwa setiap kebaikan kecil di dunia tidak akan hilang begitu saja. Setiap perbuatan baik akan dicatat oleh Allah dan menjadi bekal penting untuk hidup di akhirat.
Abu Bakar dikenal sebagai sosok yang menempatkan amal kebaikan sebagai bagian utama dalam hidupnya tanpa menunggu kondisi ekonomi yang berlebih. Dalam situasi sulit ketika kaum Muslim kerap mengalami penindasan akibat keyakinan mereka, ia tetap menunjukkan kepedulian dengan bersedekah dan membantu golongan yang lemah. Abu Bakar menggunakan hartanya untuk membeli dan memerdekakan budak-budak Muslim yang disiksa, salah satunya Bilal bin Rabah, semata-mata demi memperoleh ridha Allah. Kepedulian dan keikhlasannya tersebut menjadi bukti nyata komitmennya dalam membela keadilan dan kemanusiaan.
Pengorbanan Abu Bakar tidak hanya soal harta, tetapi juga keberanian dan empatinya untuk membantu orang Muslim. Ia bahkan menyerahkan seluruh harta miliknya pada peristiwa sedekah besar demi kepentingan umat Islam, hingga Nabi ﷺ mengatakan bahwa hartanya banyak memberi manfaat dalam berdakwah. Tindakan ini bukan sekadar kedermawanan, melainkan wujud keikhlasan dan keyakinan kuat bahwa segala yang dimiliki sejatinya adalah amanah.
Kisah Abu Bakar mengajarkan bahwa kebaikan dapat dilakukan setiap kali ada kesempatan, bukan menunggu waktu yang sempurna. Membantu sesama, membantu yang kurang beruntung, dan berkorban untuk kebenaran adalah bentuk investasi yang tidak pernah sia-sia di dunia akhirat. Allah menegaskan dalam firman-Nya : “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” ( Q.S Al-Baqarah : 261). Yang menyatakan bahwa pahala akan dilipatgandakan untuk setiap perbuatan baik. Meskipun hasil amal baik mungkin tidak terlihat di dunia ini, Allah mencatatnya dengan sempurna sebagai bekal untuk hari akhir.
Mari kita mengambil teladan dari Abu Bakar dengan membiasakan diri menanam kebaikan sejak hari ini, walau dari hal-hal sederhana. Jangan pernah menunda untuk berbuat baik, karena tidak ada yang tahu kapan maut akan datang. Setiap amal yang dilakukan, baik melalui senyum, sedekah, membantu sesama, atau berkata jujur, menjadi bekal berharga untuk kehidupan akhirat jika dilakukan dengan niat yang tulus dan istiqamah dalam setiap langkah. Semoga amal baik ini membantu kita di masa depan dan menjadikan kita salah satu orang yang beruntung.
Yuk menebar kebaikan melalui 1 klik di link berikut : https://gojariah.org/program/sedekah-berkah?utm_ref=1077&utm_source=go