• 0821 1211 5756
  • office@badanwakafassyifa.org
  • Subang, Jawa Barat, Indonesia
Badan Wakaf Assyifa
Tertulis dengan Sempurna

Tertulis dengan Sempurna

Tertulis dengan Sempurna

Oleh : Fatin Alifah Syahir

Terinspirasi dari kisah seorang wanita yang taat sekaligus tangguh, ketaatannya
mengalahkan rasa takut terhadap segala ancaman duniawi. Pada masa itu, ia
melahirkan seorang bayi laki-laki, di saat setiap anak laki-laki harus dibunuh karena
dianggap mengancam kekuasaan sang raja. Dengan penuh cinta yang dibalut
ketaatan kepada Allah, ia berusaha melindungi buah hatinya. Ia letakkan sang bayi ke
dalam sebuah peti, lalu mengalirkannya di sungai Nil, seraya berharap kepada Allah:
memohon perlindungan, pertolongan, dan menitipkan anaknya sepenuhnya kepada
Dzat yang Maha Menjaga. Namun karena diliputi rasa cemas dan rindu sebagai seorang ibu, ia meminta
putrinya, kakak dari bayi tersebut, untuk diam-diam mengikuti aliran peti itu dari
kejauhan, memastikan ke mana arah peti itu terbawa, dan apa yang akan terjadi pada
anaknya. Namun ternyata, peti itu ditemukan bukan oleh orang biasa melainkan oleh
istri sang raja, di tepi istananya.

Sampai di sini, jika kita tergesa-gesa menilai takdir Allah, mungkin hati akan dipenuhi
kekecewaan. Bukankah sang ibu sudah menitipkan anaknya kepada Allah? Bukankah
ia berharap anaknya selamat dari para algojo raja? Tapi mengapa justru bayi itu
ditemukan oleh keluarga istana, tempat di mana ancaman terbesar berasal.
Namun siapa sangka, istri sang raja ternyata adalah seorang wanita beriman
yang menyembunyikan keislamannya. Allah menjaga kesuciannya dari
sentuhan sang raja, sehingga ia tidak dikaruniai anak. Itulah sebabnya, ketika
menemukan bayi laki-laki itu, hatinya begitu bahagia dan penuh harap.

Meski sempat terjadi perdebatan, dengan kelembutan dan kebijaksanaannya, ia
berhasil membujuk sang raja agar mengizinkannya merawat bayi tersebut. Ketika itu,
bayi tersebut sulit mendapatkan asi yang cocok dari beberapa ibu susu. Mendengar
bahwa bayi itu menolak setiap ibu susu yang didatangkan ke istana, sang kakak pun
melihat kesempatan. Ia lalu mendekati pihak istana dan dengan hati-hati menawarkan
seseorang yang mungkin bisa menyusui dan merawat bayi tersebut dengan penuh
kasih sayang. Ia tidak mengungkapkan bahwa wanita itu adalah ibu kandung si bayi.
Maka atas izin Allah, sang ibu akhirnya dipertemukan kembali dengan anaknya, dan
dapat menggendong serta merawatnya di bawah perlindungan istana.

Begitulah kisah Nabi Musa, sang anak laki-laki yang Allah lindungi, melalui tulisan
tulisan-Nya yang sempurna. Betapa indah rencana-Nya, ketika sang ibu akhirnya bisa
memeluk dan melindungi anaknya sendiri, bahkan di bawah naungan istana yang
dulunya menjadi sumber ancaman.
Dan siapa sangka? Di antara begitu banyak anak laki-laki yang dibunuh saat itu, justru
Musa lah yang kelak bangkit menentang Firaun, menegakkan kebenaran, dan
membawa risalah Islam.

Begitulah janji Allah: pasti dan tak pernah ingkar. Sekilas, kisah ini mungkin
tampak singkat dan sederhana jika hanya dibaca lewat rangkaian kata. Namun
di baliknya tersembunyi jejak air mata, rasa takut yang mendalam, serta
perjuangan seorang ibu yang mempertaruhkan segalanya. Berbekal iman yang
teguh, ia memilih untuk berserah sepenuhnya kepada Allah SWT Dan benar, Allah
menepati janji-Nya:
“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: ‘Susuilah dia, dan apabila
kamu khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil).
Dan janganlah kamu khawatir dan jangan pula bersedih hati, karena
esungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan
menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (QS Al-Qashash: 7)

Bahkan saat istana mencari ibu susu yang cocok, Allah mengatur alur takdir hingga
tak satupun yang berhasil, kecuali ibu kandungnya sendiri.
“Dan Kami cegah Musa dari menerima susu perempuan-perempuan
penyusu sebelum itu. Maka berkatalah saudara perempuannya:
‘Maukah aku tunjukkan kepadamu keluarga yang akan
memeliharanya untukmu dan mereka berlaku baik kepadanya?” (QS
Al-Qashash: 12)

Kisah ini tidak hanya tentang mukjizat dan kekuasaan Allah dalam
menjaga hamba-Nya. Ia juga mengajarkan bahwa pertolongan bisa
datang melalui jalan yang tak terduga, melalui tangan manusia yang
Allah gerakkan, seperti istri Firaun dan kakak Musa. Seorang ibu yang
beriman dan berserah, tetap membutuhkan perantara untuk
menjemput takdir baik yang telah Allah janjikan.
Begitu pula dengan banyak orang hari ini. Ada di antara mereka yang
sedang berjuang sekuat tenaga, dalam diam, dengan air mata yang
tak terlihat. Mereka berserah kepada Allah, namun tetap memerlukan
uluran tangan sesama.

Di sinilah peran kita sebagai manusia yang diberi kemampuan dan
kelapangan,menjadi jalan pertolongan bagi mereka yang sedang
menunggu kabar baik dari langit. Karena bisa jadi, dari harta yang kita
infakkan, dari waktu yang kita luangkan, atau dari kepedulian yang
kita tanamkan, Allah menulis takdir yang lebih indah untuk orang lain.
Dan untuk diri kita.

Karena ada peran-peran sunyi yang mengubah jalan sebuah
takdir. Tak selalu besar, tak selalu tampak. Tapi ada kebaikan
yang menjadi jembatan antara keputusasaan dan harapan.

Allah selalu menulis takdir-Nya dengan sempurna. Dan mungkin, dalam cerita hidup seseorang, Allah sedang menuliskan peran kita sebagai jalan datangnya pertolongan. Mari titipkan kebaikan terbaik melalui sedekah hari ini.

https://gojariah.org/program/sedekah-berkah?utm_ref=1077&utm_source=web

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 4 =