• 0821 1211 5756
  • office@badanwakafassyifa.org
  • Subang, Jawa Barat, Indonesia
Badan Wakaf Assyifa
Tiga Hal Ini Kecil di Mata Kita,Tapi Besar di Sisi Allah

Tiga Hal Ini Kecil di Mata Kita,Tapi Besar di Sisi Allah

Tiga Hal Ini Kecil di Mata Kita, Tapi Besar di Sisi Allah

Kalau ditanya, “Amalan apa sih yang paling dicintai Allah?” mungkin sebagian besar dari kita langsung membayangkan amalan-amalan yang besar. Sedekah dengan nominal jutaan rupiah, membangun masjid, memberangkatkan orang haji, atau berbagai amal luar biasa lainnya. Semua itu memang mulia. Namun, menariknya, amalan yang paling dicintai Allah ternyata bukan selalu sesuatu yang terlihat besar di mata manusia.

Sering kali kita terlalu sibuk mengejar amalan yang tampak hebat sampai lupa memperhatikan amalan yang sederhana tetapi justru memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah. Kita berusaha memperbaiki diri, mengikuti kajian, membaca banyak buku, bahkan menambah berbagai ibadah sunnah. Namun entah mengapa hati masih terasa kosong. Ada yang terasa kurang. Ada yang belum benar-benar tertata.

Ternyata pertanyaan ini sudah pernah diajukan secara langsung oleh sahabat mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu kepada Rasulullah ﷺ. Sebuah pertanyaan yang sangat penting karena menyangkut arah hidup seorang muslim.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: «الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا»، قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «بِرُّ الْوَالِدَيْنِ»، قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ»

“Amal apa yang paling dicintai oleh Allah?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menariknya, jawaban Rasulullah ﷺ sangat singkat. Tidak ada penjelasan yang rumit. Tidak ada amalan yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu. Justru yang disebutkan adalah amalan yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Pertama, Shalat Tepat Waktu

Shalat tepat waktu bukan sekadar soal mengerjakan lima kali sehari. Lebih dari itu, shalat adalah ukuran seberapa cepat kita merespons panggilan Allah.

Setiap hari kita dihadapkan pada pilihan yang sama. Ketika adzan berkumandang, kita bisa langsung memenuhi panggilan-Nya atau memilih menundanya. Ironisnya, banyak di antara kita yang sangat disiplin ketika berurusan dengan manusia. Untuk pekerjaan kita datang lebih awal. Untuk rapat kita berusaha tepat waktu. Untuk urusan dunia kita rela mengatur jadwal dengan rapi. Namun ketika Allah memanggil, sering kali jawabannya adalah, “Nanti sebentar lagi.”

Padahal shalat adalah pondasi. Ketika pondasi ini mulai retak, biasanya amalan-amalan lain ikut melemah. Hati menjadi lebih mudah gelisah, ibadah terasa berat, dan hidup kehilangan arah.

Karena itu Rasulullah ﷺ tidak mengatakan “shalat yang paling lama” atau “shalat yang paling indah bacaannya”. Beliau menyebut “shalat pada waktunya”. Sebab di situlah letak bukti prioritas kita. Siapa yang paling kita dahulukan dalam hidup ini?

Mungkin kita belum mampu melakukan banyak amalan besar. Namun menjaga shalat tepat waktu adalah langkah sederhana yang nilainya sangat besar di sisi Allah.

Kedua, Berbakti Kepada Orang Tua

Setelah hak Allah, Rasulullah ﷺ langsung menyebut hak orang tua.

Mengapa demikian?

Karena sering kali kita menganggap keberadaan mereka sebagai sesuatu yang akan selalu ada. Kita sibuk mengejar masa depan, karier, pasangan, pendidikan, dan berbagai target hidup lainnya. Sementara orang tua perlahan menua dalam diam.

Mereka yang dulu menggendong kita saat kecil, kini mungkin mulai kesulitan berjalan. Mereka yang dulu begadang menjaga kita ketika sakit, kini mungkin menunggu kabar kita yang semakin jarang datang.

Banyak orang yang menyesal bukan karena kurang kaya, tetapi karena terlambat berbuat baik kepada orang tuanya.

Selama mereka masih ada, manfaatkan kesempatan itu. Dengarkan cerita mereka meskipun sudah berulang kali. Telepon mereka meskipun hanya beberapa menit. Luangkan waktu untuk menemani mereka. Karena suatu hari nanti, kesempatan itu bisa hilang selamanya.

Ridha Allah begitu dekat dengan ridha orang tua. Dan sering kali keberkahan hidup yang kita rasakan bukan semata-mata hasil kerja keras kita, melainkan doa-doa tulus yang mereka panjatkan tanpa kita ketahui.

Ketiga, Jihad di Jalan Allah

Ketika mendengar kata jihad, sebagian orang langsung membayangkan sesuatu yang besar dan berat. Padahal makna jihad jauh lebih luas.

Jihad adalah kesungguhan dalam memperjuangkan kebaikan yang diridhai Allah.

Menahan diri dari maksiat adalah jihad. Melawan rasa malas untuk beribadah adalah jihad. Menyisihkan harta untuk dakwah dan kemaslahatan umat adalah jihad. Mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan kemampuan demi kebaikan juga termasuk bagian dari jihad.

Di zaman sekarang, banyak peluang berjihad yang terbuka lebar. Membantu pendidikan Islam, mendukung dakwah, memfasilitasi orang belajar Al-Qur’an, membantu pembangunan sarana ibadah, semuanya merupakan bentuk kontribusi nyata di jalan Allah.

Mungkin nilainya tidak besar di mata manusia. Mungkin tidak ada yang memuji atau mengapresiasi. Namun Allah melihat setiap pengorbanan yang dilakukan dengan ikhlas.

Sering kali yang membuat sebuah amalan menjadi besar bukan jumlahnya, melainkan ketulusan dan kebermanfaatannya.

Saatnya Menata Ulang Prioritas

Jika diperhatikan, ketiga amalan ini sebenarnya mencakup seluruh arah kehidupan seorang muslim.

Shalat menjaga hubungan kita dengan Allah.

Berbakti kepada orang tua menjaga hubungan kita dengan manusia yang paling berjasa dalam hidup.

Jihad di jalan Allah menjaga kontribusi kita untuk agama dan sesama.

Ketika tiga hal ini kuat, biasanya kehidupan menjadi lebih terarah. Namun ketika tiga hal ini mulai diabaikan, perlahan hati menjadi keras dan tujuan hidup menjadi kabur.

Maka tidak perlu langsung berubah secara drastis. Mulailah dari langkah kecil. Perbaiki shalat sedikit demi sedikit. Luangkan waktu lebih banyak untuk orang tua. Cari satu pintu kebaikan yang bisa terus kita dukung secara istiqamah.

Sebab Allah tidak selalu menilai besarnya amalan dari ukuran yang kita lihat. Banyak amalan yang tampak sederhana di mata manusia, tetapi sangat agung di sisi-Nya.

Salah satu bentuk jihad di jalan Allah yang bisa dilakukan oleh siapa saja adalah wakaf. Melalui wakaf, harta yang mungkin terlihat kecil hari ini dapat berubah menjadi pahala yang terus mengalir selama bertahun-tahun. Bisa jadi dari wakaf itulah lahir generasi yang belajar Al-Qur’an, terlaksananya kegiatan dakwah, atau berdirinya fasilitas yang bermanfaat bagi banyak orang.

Jangan menunggu kaya untuk mulai berwakaf. Jangan menunggu jumlah yang besar untuk ikut mengambil bagian dalam kebaikan. Karena yang dinilai Allah bukan hanya besar kecilnya nominal, tetapi keikhlasan dan kesungguhan hati kita dalam mendekat kepada-Nya.

Mari ambil bagian dalam amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Mulailah berwakaf hari ini, meski dengan nominal yang sederhana. Siapa tahu, justru dari langkah kecil itulah Allah bukakan pintu kebaikan yang besar, baik di dunia maupun di akhirat.

Sudah wakaf hari ini ? https://gojariah.org/program/wakaf-produktif-investasi-mengalir-tiada-akhir?utm_ref=1077&utm_source=web

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × four =